Saturday, 8 November 2014

PENGARUH EKSTRAK DAUN BELUNTAS  (Pluchea indica) DALAM MENGATASI BAU MULUT (Halitosis) PADA WARGA DI BANJAR SARESEDA TAMPAKSIRING

RINGKASAN


Salah satu permasalahan masyarakat sekitar pura mangening yaitu bau mulut (halitosis) adalah bau nafas yang tidak enak, tidak menyenangkan dan menusuk hidung.Pada banyak kasus, umumnya bau mulut dapat diatasi dengan menjaga kebersihan rongga mulut. Kondisi mulut yang dapat memicu terjadinya bau mulut adalah kurangnya flow saliva, berhentinya aliran saliva, meningkatnya gram bakteri anaerob, meningkatnya jumlah protein makanan, pH rongga mulut yang lebih bersifat alkali dan meningkatnya jumlah sel-sel mati dan sel epitel nekrotik di dalam mulut. Pengobatan secara kimia seringkali memiliki efek samping, oleh karena itu di Asia pengobatan herbal masih marak dan populer digunakan, keampuhan pengobatan herbal telah banyak dibuktikan melalui berbagai pengalaman. Daun beluntas memeiliki anti bacterial yang dapat membasmi baakteri sehingga efektif dalam mengatasi baumulut dan menjaga kesehatan rongga mulut. Daun beluntas mengandung air, karbohidrat, magnesium, serat, steroid, vitamin, alkoloid, flavonoid, saponin, asid chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, etanol, alkohol benzil, asetat benzil, eugenot, kamfor, kardinol, linalool, pinen-alkaloid, dan minyak pati. Kandungan etanol dari daun beluntas, dapat menjadi anti bacterial untuk mengatasi bakteri yang mengakibatkan halitosis di dalam mulut dan juga dapat menjaga kesehatan gigi dan gusi. Ekstrak beluntas diperoleh dengan cara merebus beberapa helai daun beluntas kemudian menyaring partikel-partikel besar,agar dapat memperoleh ekstrak beluntas yang jernih dan memudahkan dalam proses berkumur.
  

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Dijaman yang modern ini esthetic sangat penting ,dimana kita selalu berorientasi dengan orang lain, bagaimana jika saat berbicara ada yang mengganggu suasana pembicaraan salah satunya adalah bau mulut. Bau mulut atau yang biasa dikalangan medis dikenal dengan halitosis ini adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan bau. halitosis mempunyai sumber di dalam rongga mulut maupun luar rongga mulut, yang dipengaruhi oleh aspek mikrobiologis berbagai deposit yang umumnya berada di permukaan lidah dalam rongga mulut.
Halitosis dapat menyebabkan seseorang malu, bicara tidak bebas, tidak ada rasa percaya diri dan lain-lain. Halitosis merupakan suatu masalah yang dapat dicegah dengan merawat kebersihan dalam rongga mulut dan dengan melalui perawatan sumber-sumber penyebab di dalam rongga mulut yang dapat secara efektif memecahkan masalah-masalah nafas tidak  sedap. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghilangkan halitosis yaitu dengan cara menggunaka obat-obatan tradisional yang dapat di jumpai di sekeliling kita.
Salah satunya adalah daun beluntas,dimana daun beluntas dapat mengatasi halitosis karena mengandung antiseptic. Beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus, dan berbulu lembut. Umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai pagar pekarangan.tanaman ini mempunya banyak khasiat. oleh karena itu penulis mencoba membuat penelitian untuk memperoleh kebenaran akan khasiat dari daun beluntas tersebut.
            Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui apakah daun beluntas dapat digunakan untuk mengatasi halitosis sebagai alternatif dari obat kumur.

B.     Rumusan masalah

Bedasarakan latar belakang di atas di peroleh rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah daun beluntas  (Pluchea indica) berpengaruh untuk mengurangi bau mulut

C.    Tujuan penelitian

1.         Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui pengaruh dari dau beluntas dalam mengatasi halitosis
2.    Untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang alternatif baru mengenai menurunkan bau mulut.

D.    Urgensi penelitian

            Penelitian ini sangat penting karena bau mulut sangat memepengaruhi psikis seseorang.

E.     Luaran yang diharapkan

            Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan pembuatan obat kumur.

F.     Manfaat penelitian

1.    Adapun manfaat dari penulisan proposal ini adalah:
Dapat mengetahui manfaat dari daun
beluntas untuk mengatasi bau mulut.
2.                Daun beluntas dapat digunakan sebagai jalur alternatif dari obat kumur.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.  Halitosis

1.      Definisi Halitosis

Bau mulut (halitosis) adalah bau nafas yang tidak enak, tidak menyenangkan dan menusuk hidung.Pada banyak kasus, umumnya bau mulut dapat diatasi dengan menjaga kebersihan rongga mulut anda (Kusumawardani,2011).
Bau mulut dapat dialami oleh siapa saja namun, pada beberapa orang yang mengalami halitosis dapat sama sekali tidak menyadari atau memperdulikannya. Persepsi mengenai suatu bau yang tercium adalah sangat  berbeda antara individu antara yang satu dengan yang lainnya. Seseorang sering kali tidak dapat merasakan baunya sendiri karena sudah terbiasa, seperti halitosis, hal ini dapat terjadi karena adanya efek yang dikenal sebagai adaptasi, dengan kata lai karena bau tersebut ada dan terpapar terus menerus sehingga syaraf olfactorius menjadi beradaptasi sehingga tidak disadari lagi adanya bau mulut tersebut (Djaya, 2000).
Halitosis adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk menerangkan bau yang tidak disukai sewaktu terhembus di udara, tanpa melihat substansi tersebut berasal oral maupun non-oral (Herawati).

2.      Etiologi halitosis

Kondisi mulut yang dapat memicu terjadinya bau mulut adalah kurangnya flow saliva, berhentinya aliran saliva, meningkatnya gram bakteri anaerob, meningkatnya jumlah protein makanan, pH rongga mulut yang lebih bersifat alkali dan meningkatnya jumlah sel-sel mati dan sel epitel nekrotik di dalam mulut. Walaupun penyebab halitosis belum diketahui sepenuhnya, sebagian besar penyebab yang diketahui berasal dari sisa makanan yang tertinggal di dalam rongga mulutyang diproses oleh flora normal rongga mulut. Beberapa faktor di dalam rongga mulut perlub di perhatikan khusus karenan mempunyai peranan serta pengaruh yang besar terhadap timbulnya halitosis pada seseorang, diantaranya adalah saliva, lidah, ruang interdental dan gigi (Widagdo, 2007).
            Saliva mempunyai peranan penting terhadap terjadinya halitosis, hal ini terjadi karena adanya aktifitas pembusukan oleh bakteri yaitu adanya regenerasi protein menjadi asam-asam amino oleh micro organisme, sehingga menghasilkan VSCs yangb mudah menguap dan bertanggung jawab atas terjadinyab halitosis.      Volatile sulfur compounds (VSCs) merupakan suatu senyawa sulfur yang mudah menguap, yang merupakan hasil produksi dari aktifitas bakteri anaerob di dalam mulut berupa senyawa berbau tidak sedap dan mudah menguap sehingga menimbulkan bau yang mudah tercium oleh orang disekitarnya (Widagdo 2007).

3.      Alat ukur halitosis

Halimeter adalah sebuah monitor pertable sulfida digunakan untuk menguji tingkat emisi sulfur di udara mulut. Ketika digunakan dengan benar, perangkat ini dapat sangat efektif dalam menentukan tingkat bakteri yang menghasilkan VSC tertentu. Namun, ia memiliki kekurangan dalam aplikasi klinis. Sebagai contoh, sulfida umum lainnya tidak dicatat dengan mudah dan dapat salah diartikan dalam hasil tes. Makanan tertentu seperti bawang putih dan bawang merah memproduksi sulfur dalam napas selama 48 jam dan dapat menghasilkan pembacaan yang salah. Halimeter juga sangat sensitif terhadap alkohol, sehingga harus menghindari minuman beralkohol atau menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol paling sedikit 12 jam sebelum dites. Mesin analog ini kehilangan sensitivitas dan memerlukan kalibrasi ulang secara berkala dari waktu ke waktu untuk tetap akurat .

4.      Penyebab Halitosis

Jika bau nafas yang sebelumnya normal berubah menjadi halitosis, maka penyebabnya adalah Makanan (misalanya bawang mentah,bawang putih, kol), Vitamin (terutama dalam dosis tinggi), Kebersihan gigi yang buruk, Gigi karies, Merokok, Alkohol, Infeksi tenggorokan, Sinusitis, Infeksi paru-paru, Penyakit gusi (gingivitis,gingivostomatitis), bateri, Abses gigi, Impaksi gigi, Benda asing di hidung (pada anak-anak), Obat-obatan (praldehid, triamteren, dan obat bius yang di hirup, suntikan insulin). Gejalanya : Bau nafas tercium tidak enak tidak menyenangkan atau menusuk hidung (Kusumawardani,2011).

B.     Daun beluntas

Beluntas (Pluchea indica) ialah pokok renek herbal sederhana besar yang boleh meninggi sehingga 2 m. Batang separa berkayu ini terdapat banyak cabang dan mudah bertunas, diselaputi bulu-bulu halus. Daun tunggal, sederhana besar, sedikit berisi, tirus panjang, tepi bergerigi kasar bergelombang, berwarna hijau terang, pucuk muda berwarna kuning, permukaan berkilat, tangkai pendek dan berbau. Bunga majmuk, bersaiz kecil, putih atau keungguan, terdapat dalam jambak bunga di hujung dahan. Buah atau biji berwarna putih, halus, banyak rerambut halus berfungsi memudahkannya melayang ditiup angin.penanaman tumbuhan ini biasanya yang sesuai di kawasan yang menerima cahaya matahari penuh atau separa penuh di bawah naungan.
Daun beluntas mengandung air, karbohidrat, magnesium, serat, steroid, vitamin, alkoloid, flavonoid, saponin, asid chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, etanol, alkohol benzil, asetat benzil, eugenot, kamfor, kardinol, linalool, pinen-alkaloid, dan minyak pati.Beluntas boleh dimakan bagi merawat penyakit keputihan bagi wanita, disentri, haid tidak menentu, nafas berbau atau halitosis, peluh berbau, badan berbau, sakit urat pinggang, sengal-sengal, sakit sendi (reumatisme), sakit otot, dan ulser. Ia juga boleh dimakan untuk awet muda dan bagi orang yang kurang berpeluh.Daun beluntas memeiliki anti bacterial yang dapat membasmi baakteri sehingga efektif dalam mengatasi bau mulut dan menjaga kesehatan rongga mulut.

BAB III METODE PENELITIAN


A.  Luaran

            Berupa bahan kumur berbentuk cairan

B.     Rancangan penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental semu dengan pre dan post test design.

C.    Identifikasi variabel

 variabel independent  : Penggunaan daun beluntas
 variabel dependent     : Mengatasi halitosis

D.    Subyek penelitian

Subyek dalam penelitian adalah Masyarakat Banjar Seraseda Tampak siring. Sampel diambil sebanyak 50 orang yang sedang menderita bau mulut, dimana setiaap orang mendapat dua kali pengujian sebelum dan sesudah.

E.     Teknik pengambilan sampel

Dalam pengambilan sampel digunakan tehnik purposive random sampling dengan kriteria sampel menderita halitosis.

F.      Instrumen penelitian

Jadi untuk mengukur tingkat halitosis digunakan alat ukur HALIMETER.

G.    Alat dan bahan

            Alat : Gelas, Masker, Hand scone, Formulir penelitian
            Bahan : Daun beluntas, Air putih

H.    Prosedur penelitian

a)      Sebelum melakukan penelitian,sampel diminta untuk mengisi dan menandatangani formulir untuk kesediaan menjadi sampel dalam penelitian ini.
b)      Sampel sebanyak 50 orang mendapat dua kali pengujian, Pengujian pertama yaitu tidak berkumur dengan apapun kemudian di beri perlakuan berkumur dengan ekstrak daun beluntas sebagai uji.
c)      Pada tahap pertama, sampel berjumlah 50 orang akan di ukur tingkat bau mulut (halitosisnya) , kemudian hasil dari pengukuran tersebut di catat dalam formulir penelitian.
d)     Pada tahap kedua, sampel berjumlah 50 orang akan diberi perlakuan yaitu diminta berkumur dengan ekstrak daun beluntas.
e)      Setelah berkumur dengan ekstrak daun brluntas kurang lebih selama 30 detik, kemudian ditunggu selama 1 jam sebelum di ukur kembali tingkat halitosisnya.
f)       Setelah 1 jam di ukur kembali tingkat halitosisnya kemudian hasilnya dicatat dalam formulir penelitian.

I.       Analisis data       

            Data yang di peroleh kemudian di analisis menggunakan uji paired T-test.

J.      Cara penafsiran

Daun beluntas atau (Pluchea indica) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi bau mulut (halitosis). Kandungan etanol dari daun beluntas, dapat menjadi anti bacterial untuk mengatasi bakteri yang mengakibatkan halitosis di dalam mulut dan juga dapat menjaga kesehatan gigi dan gusi. Ekstrak beluntas diperoleh dengan cara merebus beberapa helai daun beluntas kemudian menyaring partikel-partikel besar,agar dapat memperoleh ekstrak beluntas yang jernih dan memudahkan dalam proses berkumur.
Halitosis merupakan suatu keadaan dimana bau mulut tidak sedap yang berasal dalam rongga mulut ketika seseorang menghembuskan nafasnya. Halitosis dapat diakibatkan oleh bakteri yang berada pada rongga mulut akibat sisa – sisa makanan ataupun penyakit pada rongga mulut seperti karies maupun gingivitis. Sehingga diharapkan kadungan etanol dari daun beluntas dapat mengatasi bakteri dari penyebab bau mulut.


BAB IV

A.  Anggaran biaya

No.
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)
1
Peralatan Penunjang (25%)

a. Breath checker/halimeter
1,000,000
b. Kompor gas
500,000
c. Gelas kumur
100,000
d. Sewa Kamera Digital
300,000
2
Bahan Habis Pakai (40%)

a. Pembuatan proposal
75,000
b. Tanaman Obat (50)
600,000
c. Aqua gelas 2 dus
60,000
d. Aqua galon
70,000
e. Pembuatan Angket
100,000
3
Perjalanan (25%)

a. Survey Lokasi (1 x)
100,000
b. Transportasi pemantauan (4x)
400,000
4
Lain-lain (10%)

a. Administrasi
350,000
b. Biaya komunikasi (Pulsa)
300,000
c. Pembuatan laporan
200,000
d. Biaya monev
250,000
e. Pengiriman laporan akhir
250,000
Jumlah
4,655,000
Biaya tak terduga 10%

465,500
Total
5,120,500

B.     Jadwal kegiatan

No.
Jenis Kegiatan
Waktu Kegiatan
1
2
3
4








1
Observasi dan penentuan lokasi PKM-P





2
Pengajuan proposal PKM-P





3
Persiapan alat dan bahan





4
Penulisan draft & laporan akhir




5
Pengiriman laporan akhir ke Dikti





Catatan : dalam bentuk bulan
  

DAFTAR PUSTAKA

Kusumawardani, Endah. 2011, Buruknya Kesehatan Gigi dan Mulut Memicu Penyakit Diabetes,Stroke dan Jantung, SIKLUS.,Yogyakarta.
Djaya, Agus.2000, Halitosis (nafas tak sedap), PT.Dental Lintas Mediatama., Jakarta
Widagdo,Yanuaris.Volatile sulfur sebagai penyebab halitosis.Interdental 2007;5(3):125-126.
http://medicastore.com/penyakit/486/Bau_Mulut_Halitosis.html diakses 25 agustus 2014
http://dwikarie.wordpress.com/2012/01/14/makalah-halitosis/.doc diakses 25 agustus 2014
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/6.%20daun%20beluntas(beres).doc diakses 26 agustus 2014
http://ms.m.wikipedia.org/wiki/pokok_beluntas diakses 30 agustus 2014 

2 comments: